Nama
: Eli Nur Indahsari (ACC 114 044)
Tugas
SBM ke-2 pak Nopriawan
Menjelaskan dan Memberikan ilustrasi dari
Teknik-teknik pembelajaran
1. Inquiry
atau penemuan
PENJELASAN
:
A.
Pengertian Metode
Pembelajaran Inkuiri Menurut Para Ahli
Adapun beberapa pengertian mengenai Metode
Pembelajaran Inkuiri menurut para ahli sebagai berikut:
a) Phillips (dalam Arnyana, 2007:39) mengemukakan “inkuiri
merupakan pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan pada semua jenjang
pendidikan. Pembelajaran dengan pendekatan ini sangat terintegrasi meliputi
penerapan proses sains yang menerapkan proses berpikir logis dan berpikir
kritis”.
b) Sanjaya (2008:196) berpendapat bahwa “strategi pembelajaran
inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses
berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban
dari suatu masalah yang dipertanyakan”.
c) Aziz (Ahmad, 2011), Metode inkuiri
adalah metode yang menempatkan dan menuntut guru untuk membantu siswa menemukan
sendiri data, fakta dan informasi tersebut dari berbagai sumber agar dengan
kegiatan itu dapat memberikan pengalaman kepada siswa. Pengalaman ini akan
berguna dalam menghadapi dan memecahkan masalah-masalah dalam
kehidupannya.
Berdasarkan beberapa pengertian
diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa metode pembelajaran inkuiri
adalah suatu metode pembelajaran yang menekankan siswa dalam
memperoleh informasi dengan cara proses berpikir logis dan analitis
untuk memecahkan suatu masalah.
B.
Konsep Dasar Metode Pembelajaran
Inkuiri
Menurut Sanjaya (2012), metode
pembelajaran Inkuiri adalah strategi pembelajaran inkuiri, yakni rangkaian
kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan
analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang
dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui Tanya
jawab antara guru dan siswa. Strategi pembelajaran ini sering juga dinamakan
strategi heuristic, yang berasal dari
bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang
berarti saya menemukan.
Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)
berangkat dari asumsi bahwa sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki
dorongan untuk menemukan sendiri pengetahuannya. Rasa ingin tahu tentang
keadaan alam disekelilingnya merupakan kodrat manusia sejak ia lahir ke dunia.
Sejak kecil manusia memiliki keinginan untuk mengenal segala sesuatu melalui
indera pengecapan, pendengaran, penglihatan, dan indera-indera lainnya. Hingga
dewasa keingintahuan manusia secara terus-menerus berkembang dengan menggunakan
otak dan pikirannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia akan bermakna (meaningfull) manakala didasari oleh keingintahuan
itu. Dalam rangka itulah strategi inkuiri dikembangkan (Sanjaya, 2012:197).
Ada beberapa hal yang menjadi ciri
utama metode pembelajaran inkuiri yang menurut Sanjaya (2012: 197) adalah strategi pembelajaran inkuiri yang meliputi:
1) Strategi inkuiri menekankan kepada
aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi
inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran,
siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru
secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi
pelajaran itu sendiri.
2) Seluruh aktivitas yang dilakukan
siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang
ditanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self believe). Dengan demikian, strategi
pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi
sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa. Aktivitas pembelajaran
biasanya dilakukan melalui proses Tanya jawab antara guru dan siswa. Oleh sebab
itu, kemampuan guru dalam menggunakan tekhnik bertanya merupakan syarat utama
dalam melakukan inkuiri.
3) Tujuan dari penggunaan strategi
pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berfikir secara sistematis,
logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari
proses mental. Dengan demikian, dalam strategi pembelajaran inkuiri siswa tak
hanya dituntut agar menguasai materi pelajaran, akan tetapi bagaimana mereka
dapat menggunakan potensi yang dimilikinya. Manusia yang hanya mnguasai
pelajaran belum tentu dapat mengembangkan kemampuan berfikir secara optimal,
namun sebaliknya siswa akan dapat mengembangkan kemampuan berfikirnya manakala
ia bisa menguasai materi pelajaran.
C. Langkah Pelaksanaan Strategi
Pembelajaran Inkuiri (SPI)
Secara
umum Sanjaya (2012: 199) mengemukakan
bahwa proses pembelajaran dengan mengguanakan strategi pembelajaran inkuiri
dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
a)
Orientasi
Langkah
orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang
responsive. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran.
Berbeda dengan tahapan preparation dalam strategi pembelajaran ekspositori
(SPE) sebagai langkah untuk mengkondisikan agar siswa tiap menerima pelajaran,
pada langkah orientasi dalam SPI, guru merangsang dan mengajak siswa untuk
berpikir memecahkan masalah. Langkan orientasi merupakan langkah yang sangat
penting. Keberhasilan stratgi pembelajaran inkuiri sangat tergantung pada
kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan
masalah; tanpa kemauan dan kemampuan itu tak mungkin proses pembelajaran akan
berjalan dengan lancar.
b)
Merumuskan Masalah
Merumuskan
masalah merupakan langkah yang membawa siswa pada suatu persoalan yang
mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang
siswa untuk berpikir memecahkan teka teki itu. Dikatakan teka teki dalam
rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya
dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban
itulah yang sangat penting dalam strategi inkuiri, oleh sebab itu melalui
proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai
upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir. Dengan demikian, teka teki
yang menjadi masalah dalam berinkuiri adalah teka teki yang mengandung konsep
yang jelas yang harus dicari dan ditemukan. Ini penting dalam pembelajaran
inkuiri.
c)
Merumuskan Hipotesis
Hipotesis
adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai
jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Kemampuan atau potensi
individu untuk berpikir pada dasarnya sudah dimiliki sejak individu itu lahir.
Potensi berpikir itu dimulai dari kemampuan setiap individu untuk menebak atau
mengira-ngira (berhipotesis) dari suatu permasalahan. Manakala individu dapat
membuktikan tebakannya, maka ia akan sampai pada posisi yang bisa mendorong
untuk berpikir lebih lanjut. Oleh sebab itu, potensi untuk mengembangkan
kemampuan menebak pada setiap individu harus dibina. Salah satu cara yang dapat
dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap
anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa
untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai
perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji. Perkiraan
sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan
berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional
dan logis. Kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangat berpengaruh oleh
kedalaman wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman. Dengan demikian,
setiap individu yang kurang mempunyai wawasan akan sulit mengembangkan
hipotesis yang rasional dan logis.
d)
Mengumpulkan Data
Mengumpulkan
data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji
hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data
merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektal.
Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam
belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan
potensi berpikirnya. Oleh sebab itu, tugas dan peran gutu dalam tahapan ini
adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk
berpikir mencari informasi yang dibutuhkan. Sering terjadi kemacetan berinkuiri
adalah manakal siswa tidak apresiatif terhadap pokok permasalahan. Tidak
apresiatif itu biasanya ditunjukkan oleh gejala-gejala ketidakbergairahan dalam
belajar. Manakala guru menemukan gejala-gejala semacam ini, maka guru hendaknya
secara terus menerus memberikan dorongan kepada siswa untuk belajar melalui
penyuguhan berbagai jenis pertanyaan secara merata kepada seluruh siswa
sehingga meraka terangsang untuk berpikir.
e)
Menguji Hipotesis
Menguji
hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan
data dan informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Yang terpenting
dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa atau jawaban
yang diberikan. Disamping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan
kemampuan berikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan
hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang
ditemukan dan dapat dipertanggung jawabkan.
f)
Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan
kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan
hasil pengujian hipotesis. Merumukan kesimpulan merupakangong-nya dalam proses
pembelajaran. Sering terjadi, oleh karena banyaknya data yang diperoleh,
menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak focus terhadap masalah yang hendak
dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru
mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.
D. Keunggulan dan Kelemahan Metode
Pembelajaran Inkuiri
Di
dalam pembelajaran inkuiri ini, terdapat beberapa keunggulan dan juga kelemahan
dalam penerapannya. Adapun keunggulan dan kelemahan tersebut adalah sebagai
berikut:
I.
Keunggulan
Keunggulan
metode pembelajaran inkuiri yang diungkap Sanjaya (2012) ialah strategi
pembelajaran inkuiri merupakan strategi pembelajaran yang banyak dianjurkan
oleh karena strategi ini memiliki beberapa keunggulan, diantaranya:
· Strategi pembelajaran inkuiri merupakan strategi
pembelajaran yang menekankan pada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan
psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap
lebih bermakna.
· Strategi pembelajaran inkuiri dapat memberikan ruang
kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
· Strategi pembelajarn inkuiri merupakan strategi yang
dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap
belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
· Keuntungan lain adalah strategi pembelajaran ini dapat
melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan diatas rata-rata. Artinya,
siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa
yang lemah dalam belajar.
II.
Kelemahan
Kelemahan
metode pembelajaran inkuiri yang diungkap Sanjaya, (2012: 208) menyatakan bahwa
disamping memiliki keunggulan, strategi pembelajaran inkuiri mempunyai
kelemahan, diantaranya:
· Jika SPI digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka
akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
· Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran
oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
· Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan
waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang
telah ditentukan.
· Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai
materi pelajaran, maka strategi pembelajaran inkuiri akan sulit
diimplementasikan oleh setiap guru.
ILUSTRASI PENERAPAN
TEKNIK PEMBELAJARAN INQUIRY
Sebagai contoh penerapan model
inkuiri sosial dalam pembelajaran Sejarah dengan topik “Peninggalan-peninggalan
Di Jaman Prasejarah”.
No.
|
Tahap Pembelajaran
|
Kegiatan Guru
|
Kegiatan Siswa
|
1.
|
Orientasi
|
· Menjelaskan topik dan tujuan,
yaitu tentang peninggalan prasejarah
· Memberikan contoh beberapa
peninggalan prasejarah.
· Membimbing siswa untuk melakukan
analisis terhadap prninggalan prasejarah
· Merangsang siswa untuk mengajukan
pertanyaan berkaitan peninggalan prasejarah.
· Membimbing untuk mengkaji hubungan
antar data yang ditemukan terkait peninggalan prasejarah.
|
· Memahami topik dan tujuan tentang
peninggalan prasejarah
· Menerima contoh beberapa
peninggalan prasejarah.
· Melakukan analisis terhadap
peninggalan prasejarah.
· Melakukan tanya jawab berkaitan
peninggalan prasejarah.
· Mengkaji hubungan antar
variable/data pada contoh kasus yang ditemukan terkait peninggalan
prasejarah.
|
2.
|
Merumuskan
Masalah
|
· Membantu siswa mengembangkan
hipotesis terkait peninggalan prasejarah.
· Membantu siswa menguji kebenaran
atas data-data yang terkumpul terkait dengan peninggalan prasejarah.
· Membantu siswa mencari fakta/bukti
atas hipotesis yang diajukan.
|
· Mengembangkan hipotesis terkait
peninggalan prasejarah.
· Menguji kebenaran data-data dengan
memanfaatkan media yang ada (buku, internet)
· Mencari fakta/bukti atas hipotesis
yang diajukan.
|
3.
|
Merumuskan
hipotesis
|
· Membimbing untuk mengklarifikasi
dan mendefinisikan hipotesis.
· Membimbing siswa merumuskan hipotesis
|
· Melakukan klarifikasi hipotesis.
· Merumuskan hipotesis
|
4.
|
Pengumpulan
Bukti dan Fakta
|
· Membimbing siswa untuk
mengumpulkan fakta dan bukti yang dibutuhkan untuk mendukung hipotesis
melalui buku, internet, dan sebagainya
· Membimbing siswa cara-cara
mengumpulkan fakta, bukti, data yang mendukung hipotesis.
· Mendorong siswa melakukan untuk
belajar menverifikasi, dan mengkategorikan data.
|
· Melakukan pengumpulan data, fakta,
bukti yang mendukung hipotesis melalui buku, internet, dan sebagainya
· Mengumpulkan fakta, bukti, data
yang mendukung hipotesis.
· Melakukan verifikasi, dan kategori
data.
|
5.
|
Menguji
Hipotesis
|
· Membantu siswa memperluas
hipotesis yang diajukan.
· Membantu mengkaji kualitas dan
kekurangan hipotesis.
· Meyakinkan siswa atas
kebenaran/fakta yang menjadi jawaban dari rumusan hipotesis dan dari
data-data yang telah terkumpul
|
· Memperluas hipotesis yang
diajukan.
· Mengkaji kualitas dan kekurangan
hipotesis.
· Menerima kebenaran/fakta yang
menjadi jawaban rumusan hipotesis dan dari data-data yang telah terkumpul.
|
6.
|
Merumuskan
Kesimpulan
|
· Membantu siswa mengungkapkan
penyelesaian masalah yang dipecahkan, yaitu dengan memberikan kesimpulan atas
beberapa hasil uji hipotesis
· Membimbing siswa untuk mencoba
mengembangkan beberapa kesimpulan.
· Membimbing siswa untuk
menganalisis masing-masing kesimpulan yang telah dibuat.
· Membimbing siswa untuk memilih
pemecahan masalah yang paling tepat
|
· Mengungkapkan penyelesaian masalah
yang dipecahkan, yaitu memberikan kesimpulan atas beberapa hasil
uji hipotesis
· Mengembangkan beberapa kesimpulan.
· Melakukan analisis atas
masing-masing kesimpulan yang telah dibuat.
· Melakukan pemilihan pemecahan
masalah yang paling tepat
|
2. Konstruktivisme
PENJELASAN
:
A.
Pengertian
Model Pembelajaran Konstruktivisme
Model pembelajaran
konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang
menyatakan bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan) diawali dengan
terjadinya konflik kognitif.
Menurut faham
konstruktivis pengetahuan merupakan konstruksi (bentukan) dari orang yang
mengenal sesuatu (skemata). Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru kepada
orang lain, karena setiap orang mempunyai skema sendiri tentang apa yang
diketahuinya. Pembentukan pengetahuan merupakan proses kognitif di mana terjadi
proses asimilasi dan akomodasi untuk mencapai suatu keseimbangan sehingga
terbentuk suatu skema (jamak: skemata) yang baru. Seseorang yang belajar itu berarti membentuk
pengertian atau pengetahuan secara aktif dan terus-menerus (Suparno, 1997).
Kontruksi berarti
bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan, Konstruktivisme adalah
suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme
merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan
dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui
konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah
seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan
diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui
pengalaman nyata.
Sedangkan menurut Tran
Vui Konstruktivisme adalah suatu filsafat belajar yang dibangun atas anggapan
bahwa dengan memfreksikan pengalaman-pengalaman sendiri.sedangkan teori
Konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap manusia
yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk menemukan
keinginan atau kebutuhannya tersebut denga bantuan fasilitasi orang lain.
Dari keterangan diatas
dapatlah ditarik kesimpulan bahwa teori ini memberikan keaktifan terhadap
manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi,
dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri.
B.
Konsep
Dasar Model Pembelajaran Konstruktivisme
Ciri-Ciri Pembelajaran Secara Konstuktivisme
:
a) Memberi peluang kepada murid membina
pengetahuan baru melalui keterlibatan dalam dunia sebenarnya
b) Menggalakkan soalan/idea yang dimul akan oleh
murid dan menggunakannya sebagai panduan merancang pengajaran.
c) Menyokong pembelajaran secara koperatif
Mengambilkira sikap dan pembawaan murid
d) Mengambil kira dapatan kajian bagaimana murid belajar
sesuatu ide
e) Menggalakkan & menerima daya usaha &
autonomi murid
f) Menggalakkan murid bertanya dan berdialog
dengan murid & guru
g) Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses
yang sama penting dengan hasil pembelajaran.
h) Menggalakkan proses inkuiri murid mel alui
kajian dan eksperimen.
Prinsip-Prinsip
Konstruktivisme :
Secara
garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar
mengajar adalah:
1) Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
2) Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru
kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar
3) Murid aktif megkontruksi secara terus menerus,
sehingga
selalu terjadi perubahan
4) Guru sekedar membantu menyediakan saran dan
situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
5) Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa
6) Struktur pembalajaran seputar konsep utama
pentingnya sebuah pertanyaan
7) Mencari dan menilai pendapat siswa
8) Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi
anggapan siswa.
Adapun
tujuan dari teori ini dalah sebagai berikut :
·
Adanya
motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.
Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengejukan pertanyaan dan mencari sendiri
pertanyaannya.
·
Membantu
siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep secara lengkap.
·
Mengembangkan
kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
·
Lebih
menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan
teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori
ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual atau teori perkembangan
kognitif. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar,
yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa.
Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri
tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori
motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan (Ruseffendi, 1988: 132).
Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar,
1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak
melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru
dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran
karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat
(Ruseffendi 1988: 133). Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses
mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru
atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu
(Suparno, 1996: 7).
Konstruktivis ini dikritik oleh Vygotsky, yang menyatakan bahwa siswa
dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial. Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut
konstruktivisme sosial (Taylor, 1993; Wilson, Teslow dan Taylor,1993; Atwel,
Bleicher & Cooper, 1998).
C.
Langkah
pelaksanaan Model Pembelajaran Konstruktivisme
Langkah-Langkah Pembelajaran Kontrutivisme
1) Identifikasi tujuan. Tujuan dalam pembelajaran
akan memberi arah dalam merancang program, implementasi program dan evaluasi.
2) Menetapkan Isi Produk Belajar. Pada tahap ini,
ditetapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip fisika yang mana yang harus
dikuasai siswa.
3) Identifikasi dan Klarifikasi Pengetahuan Awal
Siswa. Identifikasi pengetahuan awal siswa dilakukan melalui tes awal,
interview klinis dan peta konsep.
4) Identifikasi dan Klarifikasi Miskonsepsi
Siswa. Pengetahuan awal siswa yang telah diidentifikasi dan diklarifikasi perlu
dianalisa lebih lanjut untuk menetapkan mana diantaranya yang telah sesuai
dengan konsepsi ilmiah, mana yang salah dan mana yang miskonsepsi.
5) Perencanaan Program Pembelajaran dan Strategi
Pengubahan Konsep. Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk satuan
pelajaran. Sedangkan strategi pengubahan konsepsi siswa diwujudkan dalam bentuk
modul.
6) Implementasi Program Pembelajaran dan Strategi
Pengubahan Konsepsi. Tahapan ini merupakan kegiatan aktual dalam ruang kelas.
Tahapan ini terdiri dari tiga langkah yaitu : (a) orientasi dan penyajian
pengalaman belajar, (b)menggali ide-ide siswa, (c) restrukturisasi ide-ide.
7) Evaluasi. Setelah berakhirnya kegiatan
implementasi program pembelajaran, maka dilakukan evaluasi terhadap efektivitas
model belajar yang telah diterapkan.
8) Klarifikasi dan analisis miskonsepsi siswa
yang resisten. Berdasarkan hasil evaluasi perubahan miskonsepsi maka dilakukaan
klarifikasi dan analisis terhadap miskonsepsi siswa, baik yang dapat diubah
secara tuntas maupun yang resisten.
9) Revisi strategi pengubahan miskonsepsi. Hasil
analisis miskonsepsi yang resisten digunakan sebagai pertimbangan dalam
merevisi strategi pengubahan konsepsi siswa dalam bentuk modul.
D.
Keunggulan
dan Kelemahan Model Pembelajaran Konstruktivisme
Keunggulan Model kontruktivisme
·
Pembelajaran
berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri,
berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan
tentang gagasannya.
·
Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang
berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan
disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka
tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga
siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang
menantang siswa.
·
Pembelajaran
konstruktivisme memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya.
Ini dapat mendorong siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi
tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasanpada saat yang tepat.
·
Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi kesempatan kepada
siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh
kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang telah dikenal
maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai
strategi belajar.
·
Pembelajaran
Konstruktivisme mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan merka
setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk
mengidentifikasi perubahan gagasan mereka.
·
Pembelajaran
Konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung
siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada
satu jawaban yang benar.
Kelemahan Model Konstruktivisme
Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat
dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik itu sepertinya
kurang begitu mendukung.
ILUSTRASI
PENERAPAN TEKNIK PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME
Penggunaan model pembelajaran
konstruktivisme “kelompok belajar kooperatif”
Proses pembelajaran
dengan MPBP juga menerapkan prinsip belajar kooperatif, yaitu proses
pembelajaran yang berbasis kerjasama. Kerjasama antarsiapa? Tiada lain adalah
kerjasama antarsiswa dan antarkomponen-komoponen lain di sekolah, termasuk kerjasama
sekolah dengan orang tua siswa dan lembaga terkait. Kerjasama antarsiswa jelas
terlihat pada saat kelas sudah memilih satu masalah untuk bahan kajian bersama.
Pembelajaran koperatif sesuai dengan
fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang
lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa
senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara
koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing)
pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih
beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup
bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Jadi model pembelajaran koperatif adalah
kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling
membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri.
Menurut teori dan
pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok
terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada
control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa
laporan atau presentasi. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi,
pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi
hasil kelompok, dan pelaporan.
3. SETS
atau Sains, Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat
PENJELASAN
:
A.
Pengertian
Metode Pembelajaran SETS
B.
Konsep
Dasar Metode Pembelajaran SETS
Sets adalah kepanjangan dari sains, lingkungan, teknologi, dan
masyarakat. Dasar pendekatan ini, setelah menggunakan pendekatan ini siswa akan
memiliki kemampuan memandang suatu cara terintegrasi dengan memperhatikan
keempat unsur, sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang
pengetahuan. Urutan ringkasan pendekatan ini membawa pesan bahwa untuk
menggunakan sains (S-pertama) ke bentuk teknologi (T) dalam memenuhi kebutuhan
masyarakat (S-kedua) diperukan pemikiran tentang berbagai implikasinya pada
lingkungan (E) secara fisik maupun mental. Secara tidak langsung, hal ini
menggambarkan arah pendekatan SETS yang relatif memiliki kepedulian terhadap
lingkungan kehidupan atau sistem kehidupan (manusia).
Jadi, pendidikan SETS (Science, Environment, Technology, and Society),
bukan pendidikan angan-angan atau di atas kertas saja, melainkan benar-benar
membahas sesuatu yang nyata yaitu, bisa dipahami, dapat dilihat dan dibahas dan
bisa dipecahkan jalan keluarnya. Dengan kata lain, pendekatan ini didefinisikan
sebagai belajar dan mengajar mengenai sains dan teknologi dalam konteks
pengalaman manusia. Ini berarti bahwa peserta didik dalam pembelajarannya
selain mempelajari teori tentang sains (ilmu pengetahuan) mereka juga menengok
kehidupan nyata mereka yang berhubungan dengan teori yang dipelajari, sehingga
akan berdampak positif dalam pemahaman peserta didik.
Maka, dengan pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and
Society), hasil pembelajaran diharapkan mampu memberikan bekal kemampuan dasar
kepada siswa dalam mengembangkan kehidupan sebagai manusia pribadi, anggota
masyarakat, warga negara, sehingga siap untuk mengikuti pendidikan selanjutnya.
Adapun teori belajar yang digunakan dalam
pendekatan SETS adalah konstruktivisme, behaviorisme, cognitive development,
dan social cognitive.
C.
Langkah
pelaksanaan Metode Pembelajaran SETS
Langkah-langkah
pendekatan SETS
Dalam pembelajaran SETS, tentunya pendekatan yang paling sesuai ialah
pendekatan SETS itu sendiri. Adapun ciri-ciri pendekatan SETS adalah sebagai
berikut:
1. Guru tetap memberi pengajaran sains.
2. Siswa dibawa kesituasi untuk memanfaatkan
konsep sains kebentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat.
3. Siswa diminta untuk berfikir tentang berbagai
kemungkinan akibat yang terjadi dalam proses pentrasferan sains tersebut ke
bentuk teknologi.
4. Siswa diminta untuk menjelaskan
keterhubungkaitan antara unsur sains yang dibincangkan dengan unsur-unsur lain
dalam SETS yang mempengarui berbagai keterkaitan antara unsur-unsur tersebut.
5. Siswa dibawa untuk mempertimbangkan mamfaat
atau kerugian daripada menggunakan konsep sains tersebut bila diubah dalam
bentuk teknologi.
6. Dalam kontaks kontruktivisme, siswa dapat
diajak berbincang tentang SETS dari berbagai macam arah dan dari berbagai macam
titik awal tergantung pengetahuan dasar yang dimiliki oleh siswa yang
bersangkutan. (Nono Sutanto,2007:29-30)
D.
Keunggulan
dan Kelemahan Metode Pembelajaran SETS
Kelebihan diterapkan pendekatan SETS :
· Siswa
memiliki kemampuan memandang sesuatu secara terintegrasi dengan memperhatikan
keempat unsur SETS, sehingga dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam
tentang pengetahuan yang telah dimiliki.
·
Melatih siswa peka terhadap masalah yang sedang berkembang di
lingkungan mereka.
· Siswa
memiliki kepedulian terhadap lingkungan kehidupan atau sistem kehidupan dengan
mengetahui sains, perkembangannya dan bagaimana perkembangan sains dapat
mempengaruhi lingkungan, teknologi dan masyarakat secara timbal balik.
·
Siswa
menjadi lebih aktif dan kreatif
Kelemahan
diterapkan pendekatan SETS
:
· Siswa
mengalami kesulitan dalam manghubungkaitkan antar unsur-unsur dalam
pembelajaran.
·
Membutuhkan
waktu yang lebih banyak dalam pembelajaran.
·
Pendekatan
SET hanya dapat diterapkan dikelas atas.
·
Bagi
guru yang tidak berwawasan luas kesulitan.
ILUSTRASI
PENERAPAN TEKNIK PEMBELAJARAN SETS
Penerapan
Pendekatan SETS dalam pembelajaran.
Di dalam pembelajaran
menggunakan pendekatan SETS siswa diminta menghubungkan antara unsur SETS. Yang
dimaksudkan adalah siswa menghubung kaitkan antara konsep sains yang dipelajari
dengan benda-benda berkenaan dengan konsep tersebut pada unsur lain dalam SETS,
sehingga kemungkinan siswa memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang
keterkaitan konsep tersebut dengan unsur lain dalam SETS, baik dalam bentuk
kelebihan maupun kekurangannya (Nono Sutanto,2007:30)
4. Pemecahan
Masalah
PENJELASAN
:
A.
Pengertian
Metode Pembelajaran Pemecahan Masalah
Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving) adalah suatu cara
menyajikan pelajaran dengan mendorong peserta didik untuk mencari dan
memecahkan suatu masalah/persoalan dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran.
Metode ini diciptakan seorang ahli didik berkebangsaan Amerika yang bernama
Jhon Dewey. Metode ini dinamakan Problem Method. Sedangkan Crow&Crow dalam
bukunya Human Development and Learning, mengemukakan nama metode ini dengan
Problem Solving Method.
Model pembelajaran
berbasis masalah atau lebih spesifik Metode pembelajaran berbasis masalah
(Problem Solving) menurut Sudirman, dkk. (1991 : 146) adalah cara penyajian
bahan pelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk
dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecahan atau jawabannya oleh
siswa.
Metode pembelajaran
berbasis masalah atau metode pembelajaran berbasis masalah (Problem Solving)
ini sering dinamakan atau disebut juga dengan eksperimen method, reflective thinking method, atau
scientific method (Sudirman, dkk., 1991 : 146).
Berdasarkan modul
pelatihan Kurikulum 2013. Pembelajaran berbasis masalah dikelompok dalam 4
jenis Model Pembelajaran yang wajib
dikuasai guru. Pengertian model Pembelajaran Berbasis Masalah disini diartikan sebagai pembelajaran yang
menggunakan masalah nyata dalam kehidupan sehari-hari (otentik) yang bersifat
terbuka (open-ended) untuk diselesaikan oleh peserta didik untuk mengembangkan
keterampilan berpikir, keterampilan menyelesaikan masalah, keterampilan sosial,
keterampilan untuk belajar mandiri, dan membangun atau memperoleh pengetahuan
baru. Pembelajaran ini berbeda dengan pembelajaran konvensional yang jarang
menggunakan masalah nyata atau menggunakan masalah nyata hanya di tahap akhir
pembelajaran sebagai penerapan dari pengetahuan yang telah dipelajari.
Pemilihan masalah nyata tersebut dilakukan atas pertimbangan kesesuaiannya
dengan pencapaian kompetensi dasar.
Dengan demikian, Model
atau Metode pembelajaran berbasis masalah atau metode pemecahan masalah
(Problem Solving) adalah sebuah metode pembelajaran yang berupaya membahas
permasalahan untuk mencari pemecahan atau jawabannya. Sebagaimana metode
mengajar, metode pemecahan masalah sangat baik bagi pembinaan sikap ilmiah pada
para siswa. Dengan metode ini, siswa belajar memecahkan suatu masalah menurut
prosedur kerja metode ilmiah.
B.
Konsep
Dasar Metode Pembelajaran Pemecahan Masalah
Sebagai prinsip dasar dalam metode ini adalah perlunya aktifitas dalam
mempelajari sesuatu. Timbulnya aktifitas peserta didik kalau sekiranya guru
menjelaskan manfaat bahan pelajaran bagi peserta didik dan masyarakat.
Dalam bukunya “school and society” John Dewey mengemukakan bahwa
keaktifan peserta didik di sekolah harus bermakna artinya keaktifan yang
disesuaikan dengan pekerjaan yang biasa dilakukan dalam masyarakat.Alasan
penggunaan metode problem solving bagi peneliti adalah dengan penggunaan metode
problem solving siswa dapat bekerja dan berpikir sendiri dengan demikian siswa
akan dapat mengingat pelajarannya dari pada hanya mendengarkan saja.
Untuk memecahkan suatu masalah John Dewey mengemukakan sebagai
berikut:
a. Mengemukakan persoalan/masakah. Guru
menghadapkan masalah yang akan dipecahkan kepada peserta didik.
b. Memperjelas persoalan/masalah. Masalah
tersebut dirumuskan oleh guru bersama peserta didiknya.
c. Melihat kemungkinan jawaban peserra didik
bersama guru mencari kemungkinan-kemungkinan yang akan dilaksanakan dalam
memecahkan persoalan.
d. Mencobakan kemungkinan yang dianggap
menguntungkan. Guru menetapkan cara pemecahan masalah yang dianggap paling
tepat.
e. Penilaian cara yang ditempuh dinilai, apakah
dapat mendatangkan hasil yang diharapkan atau tidak.
C.
Langkah
pelaksanaan Metode Pembelajaran Pemecahan Masalah
Langkah-langkah
Metode pembelajaran berbasis masalah
Dalam garis besarnya langkah-langkah metode pembelajaran masalah
(problem solving) dapat disarikan sebagai berikut:
1. Adanya masalah yang dipandang penting;
2. Merumuskan masalah;
3. Analisa hipotesa;
4. Mengumpulkan data;
5. Analisa data;
6. Mengambil kesimpulan
7. Aplikasi (penerapan) dari kesimpulan
yang diperoleh; dan
8. Menilai kembali seluruh proses pemecahan
masalah (Depdikbud, 1997: 23).
D.
Keunggulan
dan Kelemahan Metode Pembelajaran Pemecahan Masalah
Kelebihan Menggunakan Metode pembelajaran
Berbasis Masalah
·
Dengan
Metode / Model Pembelajaran berbasis masalah atau Metode Problem Solving akan
terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik yang belajar
memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang
dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat
semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik berhadapan dengan
situasi di mana konsep diterapkan.
·
Dalam
situasi Metode / Model Pembelajaran Masalah atau Metode Problem Solving,
peserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan
mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan.
· Metode /
Model Pembelajaran Masalah atau Metode Problem Solving dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik didik dalam
bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan
interpersonal dalam bekerja kelompok.
Kelemahan
Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
·
Memerlukan
waktu yang lama
·
Murid
yang pasif dan malas akan tertinggal
·
Sukar
sekali untuk mengorganisasikan bahan pelajaran.
· Sukar
sekali menentukan masalah yang benar-benar cocok dengan tingkat kemampuan
peserta didik.
ILUSTRASI
PENERAPAN TEKNIK PEMBELAJARAN PEMECAHAN MASALAH
Secara Sederhana
langkah penerapan Model Pembelajaran Berbasis masalah dalam kegiatan belajar
mengajar adalah sebagai berikut: 1) Siswa dibantu guru mempersiapkan dan
merumusakan masalah yang akan diteliti, 2) Siswa mencoba menentukan alternatif pemecahan
masalah tersebut; 3) Siswa mengumpulkan informasi sesuai alternatif
permasalahan yang telah ditetntukan; 4) siswa membuat simpulan; 5) siswa
mempersentasikan simpulan tersebut. Dengan cara tersebut diharapkan anak-anak
didik untuk berpikir dan bekerja sesuai dengan prinsip-prinsip ilmiah. Metode
ini lebih tepat digunakan di kelas tinggi.
Berikut adalah contoh
masalah nyata yang dapat digunakan dalam Pembelajaran Berbasis Masalah untuk
Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (sumber materi
pelatihan kurikulum 2013)
Di beberapa tempat
perbuatan mencoral-coret dinding tembok dengan menggunakan kata-kata yang tidak
sopan sering dijumpai. Hal tersebut merusak pemandangan kampung dan menjadikan
wilayah tersebut terkesan kumuh. Bagaimanakah menyelesaikan masalah tersebut?
Perilaku membuang
sampah di saluran air atau di sungai seolah-olah menjadi perilaku yang biasa
saja. Padahal di Indonesia memiliki undang-undang tentang lingkungan hidup.
Bagaimana penyelesaian masalah perilaku membuang sampah sembarangan tersebut
ditinjau dari undang-undang lingkungan hidup atau peraturan perundang-undangan
yang lain?
Wilayah terluar,
terdepan, dan tertinggal dari NKRI berbatasan dengan negara-negara tetangga.
Pembangunan di wilayah tersbut belum memadai dan warga yang tinggal di wilayah
tersebut merasa tidak diperhatikan oleh Pemerintah RI. Bagaimana sebaiknya
wilayah tersebut dikembangankan dan dibangun?
5. Diskusi
PENJELASAN
:
A.
Pengertian
Metode Pembelajaran Diskusi
Diskusi adalah aktivitas dari sekelompok siswa, berbicara saling
bertukar informasi maupun pendapat tentang sebuah topik atau masalah, dimana
setiap anak ingin mencari jawaban / penyelesaian problem dari segala segi dan
kemungkinan yang ada. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan : 1994).
Menurut Hasibun dalam bukunya Proses Belajar Mengajar (2006:10)
mengatakan bahwa diskusi merupakan proses penglihatan dua atau lebih individu
yang berinteraksi secara verbal dan saling berhadapan muka mengenai tujuan atau
sasaran yang sudah tertentu melalui cara menukar informasi, mempertahankan pendapat
atau pemecahan masalah.
Metode diskusi adalah cara penyajian pembelajaran, di mana siswa-siswa
dihadapkan kepada suatu masalah, yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan
yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama. (Syaiful Bahri
Djamarah dan Aswan Zain : 2006).
B.
Konsep
Dasar Metode Pembelajaran Diskusi
Metode
diskusi adalah suatu cara mengajar yang dicirikan oleh suatu keterikatan pada
suatu topik atau pokok pernyataan atau problem dimana para peserta diskusi
dengan jujur berusaha untuk mencapai atau memperoleh suatu keputusan atau
pendapat yang disepakati bersama.
Pengertian metode
diskusi menurut Armai Arief adalah salah satu alternative metode/cara yang
dapat dipakai oleh seorang guru di kelas dengan tujuan dapat memecahkan suatu
masalah berdasarkan pendapat siswa.
Keberhasilan
metode diskusi banyak ditentukan oleh adanya tiga unsur yaitu:
pemahaman,
kepercayaan diri sendiri dan rasa saling menghormati.
C.
Langkah
pelaksanaan Metode Pembelajaran Diskusi
Metode diskusi dimaksudkan
untuk merangsang pemikiran serta berbagai jenis pandangan. Ada 3 langkah utama
dalam metode diskusi :
1) Penyajian,
yaitu pengenalan terhadap masalah atau topik yang meminta pendapat, evaluasi
dan pemecahan dari murid.
2) Bimbingan
yaitu pengarahan yang terus-menerus dan secara bertujuan yang diberikan guru
selama proses diskusi. Pengarahan ini diharapkan dapat menyatukan
pikiran-pikiran yang telah dikemukakan.
3) Pengikhtisaran,
yaitu rekapitulasi pokok-pokok pikiran penting dalam diskusi.
D.
Keunggulan
dan Kelemahan Metode Pembelajaran Diskusi
Kelebihan metode
diskusi
·
Suasana
kelas lebih hidup sebab siswa mengarahkan perhatian atau
pikirannya
kepada masalah yang sedang didiskusikan yaitu partisipasi siswa dalam metode
ini lebih baik.
·
Dapat
menaikkan prestasi individu seperti: toleransi, demokrasi, berpikir kritis,
sabar dansebagainya.
·
Kesimpulan
hasil diskusi mudah dipahami siswa karena para siswa mengikuti proses berpikir
sebelum sampai kepada kesimpulan.
·
Para
siswa dilatih belajar mematuhi peraturan –peraturan dan tata tertib dalam suatu
masalah musyawarah sebagai latihan pada musyawarah yang sebenarnya.
· Rasa
sosial mereka dapat dikembangkan karena bisa saling, membantu dalam memecahkan
soal atau masalah dan mendorong rasa kesatuan.
·
Memperluas
pandangan.
·
Memberi
kemungkinan untuk saling mengemukakan pendapat.
Kekurangan
metode diskusi
·
Kemungkinan
ada siswa yang tidak ikut aktif, sehingga bagi anak-anak ini, diskusi merupakan
kesempatan untuk melepaskan diri dari tanggung jawab.
·
Sulit
menduga hasil yang dicapai karena waktu yang digunakan untuk
diskusi
cukup panjang.
ILUSTRASI
PENERAPAN TEKNIK PEMBELAJARAN DISKUSI
Langkah-langkah penggunaan metode
diskusi adalah sebagai berikut:
1. Taraf
persiapan, yang terdiri dari:
a. Memilih
dan menetapkan topik atau tema sekurang-kurangnya: mengidentifikasi masalah
yang merupakan alternative untuk dipilih dan didiskusikan.
b. Mengidentifikasi
dan menetapkan satu atau beberapa sumber bahan bacaan atau informasi yang
hendak dipelajari oleh siswa, sehingga kalau memasuki arena diskusi diharapkan telah membawa bahan pemikiran.
c. Menetapkan
atau menyediakan alternatif komposisi dan struktur komunikasi kelompok diskusi.
d. Menetapkan
atau menyediakan alternatif pemimpin diskusi pada guru atau siswa.
2. Siswa membentuk kelompok-kelompok diskusi,
yang terdiri dari:
a. Memilih
pimpinan diskusi (ketua, sekretaris, pelapor)
b. Mengatur
tempat duduk, ruangan, dan sebagainya dengan bimbingan guru.
3. Siswa
berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing, sedangkan guru berkeliling dari
kelompok yang satu ke kelompok yang lain, menjaga ketertiban, serta memberikan
dorongan dan bantuan agar anggota kelompok berpartisipasi aktif dan diskusi
dapat berjalan lancar. Setiap siswa hendaknya, mengetahui secara persis apa
yang akan didiskusikan dan bagaimana caranya berdiskusi.
4. Setiap kelompok
harus melaporkan hasil diskusinya. Hasil diskusi dilaporkan ditanggapi
oleh semua siswa, terutama dari kelompok lain. Guru memberikan ulasan atau
penjelasan terhadap laporan tersebut.
5. Akhirnya
siswa mencatat hasil diskusi, sedangkan guru menyimpulkan laporan hasil diskusi
dari setiap kelompok.
6. Tanya-Jawab
PENJELASAN
:
A.
Pengertian
Metode Pembelajaran Tanya-Jawab
Metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk
pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru. Hal
ini sejalan dengan pendapat Sudirman (1987:120) yang mengartikan bahwa “metode tanya jawab adalah cara penyajian
pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada
siswa, tetapi dapat pula dari siswa
kepada guru.”
Lebih lanjut dijelaskan pula
oleh Sudirman (1987:119) menyatakan
bahwa metode tanya jawab ini dapat dijadikan sebagai pendorong dan pembuka
jalan bagi siswa untuk mengadakan penelusuran lebih lanjut (dalam rangka
belajar) kepada berbagai sumber belajar seperti buku, majalah, surat kabar,
kamus, ensiklopedia, laboratorium, video, masyarakat, alam, dan
sebagainya.
Sementara itu, dalam Petunjuk Teknis Kurikulum 1994 (1996:26)
dinyatakatan bahwa “metode tanya jawab adalah suatu cara mengajar atau
menyajikan materi melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan
siswa memahami materi tersebut.
Penggunaan metode ini
dengan baik dan tepat, akan dapat
merangsang minat dan motivasi siswa dalam belajar. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam penggunaan metode tanya jawab adalah:
1. Materi
menarik dan menantang serta memiliki nilai aplikasi tinggi.
2. Pertanyaan
bervariasi, meliputi pertanyaan tertutup (pertanyaan yang jawabannya hanya satu
kemungkinan) dan pertanyaan terbuka (pertanyaan
dengan banyak kemungkinan jawaban).
3. Jawaban
pertanyaan itu diperoleh dari penyempurnaan jawaban-jawaban siswa.
4. Dilakukan
dengan teknik bertanya yang baik. (Depdikbud, 1996:26).
Berdasarkan pembahasan
di atas, maka dapat disimpulkan bahwa metode tanya jawab adalah suatu metode
pembelajaran yang dilakukan dengan cara pengajuan-pengajuan pertanyaan yang
mengarahkan siswa untuk memahami materi pelajaran dalam rangka mencapai tujuan
pembelajaran.
B.
Konsep
Dasar Model Pembelajaran Tanya-Jawab
Tujuan Penggunaan Model Pembelajaran Tanya
Jawab
· Penggunaaan
metode tanya jawab biasanya digunakan untuk menyimpulkan/mengikhtisar pelajaran
atau apa yang dibaca, dengan dibantu tanya jawab antara mahasiswa dan mencapai
suatu tujuan yang baik.
· Dalam
tanya jawab, dosen dapat menilai mahasiswa apakah mahasiswa paham dan mengerti
tentang materi yang tela disampaikan.Seorang dosen dalam metode tanya jawab
juga bisa menilai apakah mahasiswa mendengarkan dengan baik atau tidak (Istarani,
2012).
Untuk
menghindari penyimpangan dari pokok persoalan, penggunaan metode tanya jawab
harus memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Merumuskan tujuan tanya jawab sejelas-jelasnya
dalam bentuk tujuan khusus dan berpusat pada tingkah laku siswa.
2. Mencari alasan pemilihan metode tanya jawab.
3. Menetapkan kemungkinan pertanyaan yang akan
dikemukakan.
4. Menetapkan kemungkinan jawaban untuk menjaga
agar tidak menyimpang dari pokok persoalan.
5. Menyediakan kesempatan bertanya bagi siswa.
C.
Langkah
pelaksanaan Model Pembelajaran Tanya-Jawab
Langkah-Langkah Model Pembelajaran Tanya Jawab
a. Proses yang dilakukan dengan membaca, meneliti
atau diskusi. Membaca informasi dari berbagai sumber adalah salah satu teknik
untuk menemukan jawaban. Sebelum pembelajaran berlangsung, dosen telah
menentukan pertanyaan secara cermat dan sistematis oleh dosen. Pertanyaan yang
akan diberikan dosen nantinya harus sesuai dengan kompetensi yang harus dicapai
setelah pembelajaran. Dan pertanyaan yang berasal dari mahasiswa dapat dijawab
dengan sederhana, singkat, dan padat.
b. Dosen memberikan pengajaran dikelas dan
memberikan stimuli pada peserta didik untuk belajar sesungguhnya. Kunci pokok
kehadiran stimuli belajar antara lain adalah pertanyaan yang diajukan dosennya.
Dengan pertanyaan maka peserta didik akan segera mulai belajar sesunggguhnya
(meaningful learning).
c. Dorongan yang menumbuhkan persaingan diantara kelompok mahasiswa
untuk memperoleh pujian dan nilai yang baik. Dosen dapat melemparkan pertanyaan
dari mahasiswa ke mahasiswa lainnya untuk dikomentari dan diberikan penjelasan
sehingga akan terbentuk proses belajar yang aktif
D.
Keunggulan
dan Kelemahan Model Pembelajaran Tanya-Jawab
Kelebihan
metode tanya Jawab :
·
Kelas lebih aktif karena anak tidak sekedar mendengarkan
saja.
·
Memberikan kesempatan kepada anak untuk bertanya
sehingga Guru mengetahui hal-hal yang belum dimengerti oleh siswa.
· Guru dapat mengetahui sampai sejauh mana penangkapan
siswa terhadap segala sesuatu yang diterangkan.
Kelemahan metode
tanya Jawab:
· Dengan tanya-jawab kadang-kadang pembicaraan menyimpang dari pokok
persoalan bila dalam mengajukan pertanyaan, siswa menyinggung hal-hal lain
walaupun masih ada hubungannya dengan pokok yang dibicarakan. Dalam hal ini
sering tidak terkendalikan sehingga membuat persoalan baru.
·
Membutuhkan waktu lebih banyak.
ILUSTRASI
PENERAPAN TEKNIK PEMBELAJARAN TANYA-JAWAB
Ilustrasi
penggunaan metode tanya jawab di kelas
1. Melanjutkan
pelajaran yang lalu
Di suatu kelas SMP Guru
akan mengajarkan pokok bahasan “puisi baru”, dengan bertanya : “Bentuk-bentuk
puisi lama, dalam sastra melayu, telah kita kenal. Tiap-tiap macam memiliki
ciri yang berbeda, yang merupakan ikatan. Oleh karena itulah tiap bentuk
mempunyai nama sendiri. Coba sekarang kita tulis di papan tulis apa yang
kemarin telah kita pelajari.
Guru : ”Apa sajakah nama-nama puisi lama itu?”
Siswa : “pantun”
Guru : “Baik, coba sebutkan yang lain, Wati!”
Siswa : “talibun, karmina””
Guru :
“Betulkah anak-anak?”
Siswa : “Betul, tetapi masih ada lagi,
syair”
Guru
: “Bagus, hari ini akan ibu lanjutkan dengan lahirnya puisi baru”.
Apakah ini penggunaan
metode tanya-jawab yang baik ? Di sini Guru menggunakan teknik tersebut untuk
meninjau secara singkat pelajaran yang lalu dengan tujuan memusatkan lagi
perhatian siswa-tentang sejumlah kemajuan yang telah dicapai pada hari-hari
yang lalu, dengan demikian ia dapat melanjutkan pelajaran berikutnya. Guru
sendiri sebetulnya dapat juga mencantumkan ikhtisar pelajaran yang lampau di
papan tulis, tetapi ia merasa bahwa perhatian siswa dapat dipusatkan lebih baik
bila mereka sendiri harus mengingat rentetan peristiwa. Kalau murid ikut serta,
Guru akan mengetahui sejauh mana siswa telah menangkap pembicaraannya. Karena
itulah penggunaan metode tanya jawab di sini adalah wajar.
2. Menyelingi
pembicaraan untuk mendapatkan kerjasama siswa
Di salah satu kelas
SMP, di tengah-tengah pelajaran, Guru menghentikan pembicaraannya mengenai
riwayat hidup Chairil Anwar kemudian bertanya kepada para siswanya
Guru : “Riwayat hidup dan perjuangan Chairil Anwar
baru saja kita dengar; siapa yang dapat menyebutkan beberapa hasil karyanya?”
Budi : “Aku”
Amat
: “Beta Pattirajawane”
Guru : “Ya, tentang apa sajak “Aku” itu? Bagaimana
masalahnya? –
Di sini Guru telah
mengajukan pertanyaan tentang fakta untuk menyelingi teknik berbicara yang
dipakainya dan untuk mengikutsertakan para siswa. Guru sebenarnya dapat
menyebut nama-nama sajak itu tetapi ia berpendirian bahwa jika siswa mengetahui
jawabannya, akan lebih berarti, Sumbangan pikiran merupakan penggunaan
tanya-jawab yang wajar.
3. Memimpin
pengamatan atau pemikiran siswa
Pada suatu pokok
bahasan “lahirnya sastra baru” Guru ingin agar tidak hanya ia sendiri yang
bercerita melainkan ingin memimpin pemikiran siswa, maka dimulailah dengan
mengemukakan pertanyaan sebagai berikut:
Guru : “Ada pendapat bahwa sastra baru ada setelah
bahasa Indonesia lahir. Kalau demikian, kira-kira kapan titik mula sastra baru
itu ?”
Ali : “Bahasa Indonesia dicanangkan sebagai
bahasa kesatuan pada saat Sumpah Pemuda, dengan demikian sastra baru itu lahir
pada tahun 1928”.
Guru : “Baik kira-kira sekitar tahun itu”. Tetapi
ada pendapat yang mengatakan bahwa kesadaran kebangsaan yang menjadi perbedaan
hakiki kesusastraan Melayu dengan kesusastraan Indonesia. Lalu bagaimana
kesusatraan Melayu pada saat itu ?”
Amien:
“Kalau demikian sebelum adanya kesadarari kebangsaan, kesusastraan Melayu sama
halnya dengan kesustraan daerah lainnya seperti kesusastraan Jawa, Sunda, Bali
dan lain sebagainya “.
Guru : “Betul, begitulah keadaan saat itu”. “Kalau
dihubungkan dengan kesadaran kebangsaan atau nasionalisme, kira-kira tahun
berapa mulai ?”
Anna
: “Bukankah nasionalisme itu mulai ada pada tahun 1920,1921, atau 1922”.
Guru : “Baik, tetapi mengapa kamu sebutkan tahun
itu ?
Anna :
“Karena saat itu sudah ada puisi yang benema cinta lanah air seperti karya
Muhammad Yamin. Sanusi Pane “.
Dengan
seterusnya hingga anak-anak tidak mendengarkan saja cerita Guru melainkan
dipimpin untuk berpartisipasi. Di sini Guru menggunakan metode tanya-jawab
dengan efektif. Suatu pokok bahasan yang ada sangkut pautnya dengan sejarah
(yang sudah dipelajari anak) dipakai sebagai acuan untuk membawa pemikiran anak
pada lahirnya sastra baru.
7. Penugasan
PENJELASAN
:
A.
Pengertian
Metode Pembelajaran Penugasan
Salah satu metode yang digunakan dalam
pembelajaran adalah metode resitasi terstruktur. Imansjah Alipandie (1984:91) dalam bukunya yang
berjudul “Didaktik Metodik Pendidikan Umum” mengemukakan bahwa : ”Metode resitasi terstruktur
adalah cara untuk mengajar yang dilakukan dengan jalan memberi tugas khusus kepada siswa untuk
mengerjakan sesuatu di luar jam pelajaran. Pelaksanaannya bisa dirumah,
diperpustakaan, dilaboratorium, dan hasilnya dipertanggungjawabkan.”
Menurut Sudirman. N, (1991:141).
Pengertian metode penugasan/ resitasi adalah
cara penyajian bahan pelajaran di mana guru memberikan tugas tertentu
agar siswa melakukan kegiatan belajar.
Sedangkan Slameto (1990:115)
mengemukakan: Metode resitasi terstruktur adalah cara
penyampaian bahan pelajaran dengan memberikan tugas kepada
siswa untuk dikerjakan dalam rentangan waktu tertentu dan hasilnya harus
dipertanggungjawabkan kepada guru.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan
bahwa metode resitasi terstruktur adalah pemberian tugas kepada
siswa di luar jadwal sekolah atau diluar jadwal pelajaran yang pada akhirnya
dipertanggungjawabkan kepada guru yang bersangkutan.
Metode resitasi terstruktur merupakan salah satu pilihan metode mengajar seorang
guru, dimana guru memberikan sejumlah item tes kepada siswanya untuk dikerjakan
di luar jam pelajaran. Pemberian item tes ini biasanya dilakukan pada setiap
kegiatan belajar mengajar di kelas, pada akhir setiap pertemuan atau akhir
pertemuan di kelas.
B.
Konsep
Dasar Metode Pembelajaran Penugasan
Pembelajaran dengan
menggunakan metode penugasan berarti guru memberi tugas tertentu agar siswa
melakukan kegiatan belajar. Tugas yang diberikan guru dapat berupa masalah yang
harus dipecahkan dan prosedurnya tidak diberitahukan. Metode penugasan ini dapat
mengembangkan kemandirian siswa, merangsang untuk belajar lebih banyak, membina
disiplin dan tanggung jawab siswa, dan membina kebiasaan mencari dan mengolah
sendiri informasi.
C. Langkah
pelaksanaan Metode Pembelajaran Penugasan
Adapun
prosedur metode resitasi terstruktur yang perlu
diperhatikan dalam melakukan pengajaran antara lain: memperdalam pengertian
siswa terhadap pelajaran yang telah diterima, melatih siswa ke arah belajar
mandiri, dapat membagi waktu secara teratur, memanfaatkan waktu luang, melatih
untuk menemukan sendiri cara-cara yang tepat untuk menyelesaikan tugas dan
memperkaya pengalaman di sekolah melalai kegiatan di luar kelas (Sri Anitah
Wiryawan, 1990:30).
Selanjutnya, metode resitasi terstruktur
ini dianggap efektif Imansyah Alipandie bila hal-hal berikut ini dapat
dilaksanakan yaitu: merumuskan tujuan khusus yang hendak dicapai, tugas yang
diberikan harus jelas, waktu yang disediakan untuk menyelasaikan tugas harus
cukup (Imansyah Alipandie, 1984:93). Sudirman (1992:145) dalam bukunya yang
berjudul “Ilmu Pendidikan” langkah-langkah yang ditempuh dalam pendekatan
pelaksanaan metode resitasiterstruktur yaitu :
a)
Tugas yang
diberikan harus jelas
b)
Tempat dan lama waktu penyelesaian tugas harus
jelas.
c)
Tugas yang
diberikan terlebih dahulu dijelaskan/diberikan petunjuk yang jelas, agar siswa
yang belum mampu memahami tugas itu berupaya untuk
menyelesaikannya.
d)
Guru harus memberikan bimbingan utamanya kepada siswa
yang mengalami kesulitan belajar atau salah arah dalam mengerjakan tugas.
e)
Memberi dorongan terutama bagi siswa yang lambat atau
kurang bergairah mengerjakan tugas (Sudirman, 1992 : 145)
D.
Keunggulan
dan Kelemahan Metode Pembelajaran Penugasan
Kelebihan Metode Penugasan / Resitasi:
·
Tugas lebih
merangsang siswa untuk untuk belajar lebih banyak , baik pada waktu di kelas
maupun di luar kelas.
·
Metode ini
dapat mengembangkan kemandirian siswa yang diperlukan kehidupan kelak.
·
Tugas dapat
lebih meyakinkan tentang apa yang dipelajari dari guru, lebih memperdalam,
memperkaya atau memperluas pandangan tentang apa yang dipelajari.
·
Tugas dapat
membina kebiasaan siswa untuk mencari dan mengolah sendiri informasi dan
komunikasi.
·
Metode ini
dapat membuat siswa bergairah dalam belajar karena kegiatan belajar dilakukan
dengan berbagai variasi sehingga tidak membosankan. (Sudirman Dkk, 1991 : 142
).
Kekurangan dari metode penugasan/resitasi:
·
Siswa sulit dikontrol, apa benar mengerjakan tugas ataukah
orang lain
·
Tidak mudah memberikan tugas yang
sesuai dengan perbedaan individu siswa
·
Sering memberikan tugas yang monoton,
sehingga membosankan
ILUSTRASI
PENERAPAN TEKNIK PEMBELAJARAN PENUGASAN
Siswa
diberikan sejumlah soal oleh guru
8. Karya
Ilmiah
PENJELASAN
:
A.
Pengertian
Metode Pembelajaran Karya Ilmiah
Metode ilmiah atau
dalam bahasa inggris dikenal sebagai scientific method adalah proses berpikir
untuk memecahkan masalah secara sistematis,empiris, dan terkontrol. Metode
ilmiah merupakan proses berpikir untuk memecahkan masalah. Metode ilmiah
berangkat dari suatu permasalahan yang perlu dicari jawaban atau pemecahannya.
Proses berpikir ilmiah dalam metode ilmiah tidak berangkat dari sebuah asumsi,
atau simpulan, bukan pula berdasarkan
data atau fakta khusus. Proses berpikir untuk memecahkan masalah lebih
berdasar kepada masalah nyata. Untuk memulai suatu metode ilmiah, maka dengan
demikian pertama-tama harus dirumuskan masalah apa yang sedang dihadapi dan
sedang dicari pemecahannya. Rumusan permasalahan ini akan menuntun proses
selanjutnya.
Pada Metode Ilmiah,
proses berpikir dilakukan secara sistematis. Dalam metode ilmiah, proses
berpikir dilakukan secara sistematis dengan bertahap, tidak zig-zag. Proses
berpikir yang sistematis ini dimulai dengan kesadaran akan adanya masalah
hingga terbentuk sebuah kesimpulan. Dalam metode ilmiah, proses berpikir
dilakukan sesuai langkah-langkah metode ilmiah secara sistematis dan berurutan.
B.
Konsep
Dasar Metode Pembelajaran Karya Ilmiah
Metode ilmiah
didasarkan pada data empiris. Setiap metode ilmiah selalu disandarkan pada data
empiris. maksudnya adalah, bahwa masalah yang hendak ditemukan pemecahannya
atau jawabannya itu harus tersedia datanya, yang diperoleh dari hasil
pengukuran secara objektif. Ada atau tidak tersedia data empiris merupakan
salah satu kriteria penting dalam metode ilmiah. Apabila sebuah masalah
dirumuskan lalu dikaji tanpa data empiris, maka itu bukanlah sebuah bentuk
metode ilmiah.
Pada metode ilmiah,
proses berpikir dilakukan secara terkontrol. Di saat melaksanakan metode
ilmiah, proses berpikir dilaksanakan secara terkontrol. Maksudnya terkontrol
disini adalah, dalam berpikir secara ilmiah itu dilakukan secara sadar dan
terjaga, jadi apabila ada orang lain yang juga ingin membuktikan kebenarannya
dapat dilakukan seperti apa adanya. Seseorang yang berpikir ilmiah tidak
melakukannya dalam keadaan berkhayal atau bermimpi, akan tetapi dilakukan
secara sadar dan terkontrol.
C.
Langkah
pelaksanaan Metode Pembelajaran Karya Ilmiah
Langkah-langkah
metode ilmiah yang dilakukan oleh ilmuwan:
1. Identifikasi Masalah
2. Merumuskan Masalah
3. Mengumpulkan Keterangan
4. Menyusun Hipotesis
5. Melakukan Eksperimen
6. Menarik Kesimpulan: jika kesimpulan mendukung
hipotesis, hipotesis diterima. Sementara jika kesimpulan tidak mendukung
hipotesis, hipotesis ditolak.
7. Menguji Kesimpulan dengan Eksperimen
D.
Keunggulan
dan Kelemahan Metode Pembelajaran Karya Ilmiah
ILUSTRASI PENERAPAN TEKNIK PEMBELAJARAN KARYA
ILMIAH
LAPORAN PRAKTIKUM
Laporan praktikum
adalah laporan yang berisi hasil dari praktikum. Isi dari laporan praktikum
adalah:
Identitas Praktikan
ü Rumusan
Masalah/Judul Praktikum
ü Tujuan
Praktikum
ü Dasar
Teori
ü Hipotesis
ü Variabel
ü Alat
dan Bahan
ü Langkah
Kerja/Prosedur Percobaan
ü Data/Hasil
Pengamatan
ü Pembahasan
(Jika ingin lebih detail)
ü Pertanyaan
dan Jawaban (Jika ada)
ü Kesimpulan
9. Demontrasi
PENJELASAN
:
A.
Pengertian
Metode Pembelajaran Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah
pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada
penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh
peserta didik secara nyata atau tiruannya (Syaiful, 2008:210).
Metode
demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian,
aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun
melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau
materi yang sedang disajikan (Muhibbin Syah, 2000:22).
Sementara
menurut Syaiful Bahri Djamarah, (2000:2) bahwa metode demonstrasi adalah metode
yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda
yang berkenaan dengan bahan pelajaran.
Menurut
Syaiful (2008:210) metode demonstrasi ini lebih sesuai untuk mengajarkan
bahan-bahan pelajaran yang merupakan suatu gerakan-gerakan, suatu proses maupun
hal-hal yang bersifat rutin. Dengan metode demonstrasi peserta didik
berkesempatan mengembangkan kemampuan mengamati segala benda yang sedang
terlibat dalam proses serta dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang
diharapkan.
Metode demonstrasi adalah cara
penyajian pelajaran dengan memeragakan suatu proses kejadian. Metode
demonstrasi biasanya diaplikasikan dengan menggunakan alat-alat bantu
pengajaran seperti benda-benda miniatur, gambar, perangkat alat-alat
laboratorium dan lain-lain. Akan tetapi, alat demonstrasi yang paling pokok
adalah papan tulis dan white board, mengingat fungsinya yang multi proses.
Dengan menggunakan papan tulis guru dan siswa dapat menggambarkan objek,
membuat skema, membuat hitungan matematika, dan lain – lain peragaan konsep
serta fakta yang memungkinkan.
B.
Konsep
Dasar Metode Pembelajaran Demonstrasi
Perbedaan demonstrasi
dengan alat peraga adalah bahwa alat peraga merupakan bagian dari media.
Maksudnya bahwa demonstrasi adalah metode yang sistematis yang digunakan untuk
menyampaikan materi yang sedang dipelajari yang lebih banyak menuntut untuk
menggunakan alat peraga meskipun tidak semua demonstrasi harus menggunakan alat
peraga. Jadi alat peraga yang dimaksud menurut penulis adalah alat peraga
merupakan alat bantu pembelajaran yang dimaksudkan untuk memperjelas suatu
proses tertentu.
v Alasan
Menggunakan Metode Demonstrasi
Beberapa alasan
menggunakan metode demonstrasi, antara lain:
a. Tidak
semua topik dapat diterangkan melalui penjelasan atau diskusi.Sifat pelajaran
yang menuntut untuk diperagakan.
b. Peserta
didik yang berbeda ada yang kuat visual, tetapi lemah dalam auditif motorik
ataupun sebaliknya.
c. Memudahkan
mengerjakan suatu cara atau prosedur
v Manfaat
Menggunakan Metode Demonstrasi
a. Manfaat
metode demonstrasi diantaranya:
b. Dengan
menggunakan metode Demonstrasi perhatian siswa lebih dapat terpusatkan pada
pelajaran yang sedang diberikan.
c. Kesalahan-kesalahan
yang terjadi bila pelajaran itu di ceramahkan dapat diatasi melalui pengamatan
dan contoh yang kongkrit.
Metode demonstrasi
adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertujukkankepada
siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau
hanya sekadar tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari
penjelasan secara liasan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran
siswa hanya sekadar memerhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan
bahan pelajaran lebih konkret. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat
digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan
inkuiri.
C.
Langkah
pelaksanaan Metode Pembelajaran Demonstrasi
Langkah-langkah Menggunakan Metode
Demonstrasi
2. Tahap
Persiapan
Pada tahap persiapan ada beberapa hal
yang harus dilakukan:
§ Rumuskan
tujuan yang harus dicapai oleh siswa setelah proses demonstrasi berakhir tujuan
ini meliputi beberapa aspek seperti aspek pengetahuan, sikap, atau keterampilan
tertentu.
§ persiapkan
garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan. Garis-garis besar
langkah demonstrasi diperlukan sebagai panduan untuk menghindari kegagalan.
§ Lakukan
uji coba demonstrasi. Uji coba meliputi segala peralatan yang diperlukan.
3. Tahap
Pelaksanaan
a. Langkah
Pembukaan; Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang harus
diperhatikan, di antaranya:
§ Aturlah
temat duduk yang memungkinkan semua siswa dapat memerhatikan dengan jelas apa
yang didemonstrasikan.
§ Kemukakan
tujuan apa yang harus dicapaioleh siswa.
§ Kemukakan
tugas-tugas apa yang harus dilakukan oelh siswa, misalnya siswa ditugaskan
untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi.
b. Langkah
pelaksanaan demonstrasi
§ Mulailah
demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang merangsang siswa untuk berpikir,
misalnya melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengandung teka-teki sehingga
mendorong siswa untuk tertarik memerhatikan demonstrasi.
§ Ciptakan
suasana yang menyejukkan dengan menghindari suasana yang menegangkan Yakinkan
ahwa semua siswa mengikuti jalannya demonstrasi dengan memerhatikan reaksi
seluruh siswa.
§ Berikan
kesempatan kepada siswa untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai
dengan apa yang dilihat dari peruses demonstrasi itu.
4. Langkah mengakhiri metode demonstrasi
Apabila demonstrasi
selesai dilakukan, proses pebelajran perlu diakhiri dengan memberikan
tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan
peruses pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini diperlukan untuk meyakinkan
apakah siswa mamahami proses demonstrasi itu atau tidak. Selain memberikan
tugas yang relevan, ada baiknya guru dan siswa melakuan evaluasi bersama
tentang jalannya proses demonstrasi itu untuk perbaikan selanjutnya.
D.
Kelebihan
dan Kekurangan Metode Pembelajaran Demonstrasi
Kelebihan metode
demonstrasi
·
Perhatian siswa dapat dipusatkan pada
hal-hal yang dianggap penting oleh guru sehingg hal yang penting itu dapat
diamati secara teliti. Di samping itu, perhatian siswa pun lebih mudah
dipusatkan kepada proses belajar mengajar dan tidak kepada yang lainya.
·
Dapat membimbing siswa ke arah berpikir
yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama.
·
Ekonomis dalam jam pelajaran di sekolah
dan ekonomis dalam waktu yang panjang dapat diperlihatkan melalui demonstrasi
dengan waktu yang pendek.
·
Dapat mengurangi kesalahan-kesalahn bila
dibandingkan dengan hanya membaca atau mendengarkan, karena murid mendapatkan
gambaan yang jelas dari hasil pengamatannya.
· Karena gerakan dan proses dipertunjukan
maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang banyak
·
Beberapa persoalan yang menimbulkan
petanyaan atau keraguan dapat diperjelas waktu proses demonstrasi.
Kekurangan
metode demonstrasi
·
Derajat visibilitasnya kurang, peserta
didik tidak dapat melihat atau mengamati keseluruhan benda atau peristiwa yang
didemonstrasikan kadang-kadang terjadiperubahan yang tidak terkontrol.
·
Untuk mengadakan demonstrasi digunakan
ala-alat yang khusus, kadang-kadang alat itu susah didapat. Demonstrasi
merupakan metode yang tidak wajar bila alat yang didemonstrasikan tidak dapat
diamati secara seksama.
·
Dalam mengadakan pengamatan terhadap
hal-hal yang didemonstrasikan diperlukan pemusatan perhatian. Dalam hal ini
banyak diabaikan leh peserta didik.
·
Tidak semua hal dapat didemonstrasikan
di kelas.
·
Memerlukan banyak waku sedangkan
hasilnya kadang-kadang sangat minimum.
·
Kadang-kadang hal yang didemonstrasikan
di kelas akan berbeda jika proses itu didemonstrasikan dalam situasi nyata atau
sebenarnya.
·
Agar demonstrasi mendapatkan hasil yang
baik diperlukan ketelitian dan kesabaran.
ILUSTRASI
PENERAPAN TEKNIK PEMBELAJARAN DEMONSTRASI
Memilih
Metode Pembelajaran IPA yang Efektif
Metode merupakan salah satu hal yang
sangat penting dalam proses belajar mengajar., karena tanpa metode tentu
kegiatan belajar mengajar tidak akan berhasil tidak akan tercapai sesuai tujuan
yang diharapkan. Metode diartikan sebagai cara yang teratur yang digunakan
untuk melaksanakan pembelajaran. Sedangkan nmetode pembelajaran adalah cara
kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan pembelajaran sehingga
kompetensi dan tujuan dapat tercapai. Beberapa metode yang diterapkan dalam
pembelajaran IPA antara lain:
a) Metode
Ceramah
b) Metode
Demonstrasi
c) Metode
Eksperimen
Terima Kasih Sudah Mengunjungi Blog Saya ... Heheee
Salam Kenal dari Gadis Manis Asli Kalimantan Tengah ....
Terima Kasih Sudah Mengunjungi Blog Saya ... Heheee
Salam Kenal dari Gadis Manis Asli Kalimantan Tengah ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar